5 PENGUSAHA SUKSES YANG BERASAL DARI SULAWESI SELATAN

1. Zukri (Jahe Instan Khas Makassar)
Berbekal kerja keras dan kreativitas, Zukri meraih sukses sebagai pengusaha jahe instan khas tanah kelahirannya, Makassar. Tak hanya jahe instan, ia juga sukses mengelola perusahaan penyedia jasa training management outbond. Omzet dari masing-masing usahanya tersebut bisa mencapai Rp 100 juta per bulan.
Pengusaha sukses memang tak harus berasal dari sebuah keluarga pengusaha. Seperti yang terlihat pada Zukri. Meski darah wirausaha sama sekali tak mengalir dalam tubuhnya, toh, pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan ini mampu meraih sukses sebagai seorang pengusaha.
Berkat kerja keras dan kreativitasnya mengembangkan resep minuman tradisional jahe asli Makassar, Sukma Jahe bisa diterima masyarakat dengan baik.
Zukri mengembangkan usaha jahe instan ini sejak dua tahun lalu. Zukri yang juga pemilik UD Monity Jaya Bersama mampu memodifikasi resep minuman jahe khas Kota Angin Mamiri tersebut hingga menghasilkan aroma dan rasa yang berbeda dengan produk-produk jahe instan lainnya.
Saat ini, Sukma Jahe sudah beredar di pelbagai kota di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Kapasitas produksinya 50.000 sachet per bulan. Dengan harga jual Rp 2.000 sachet, omzet yang dikantongi Zukri bisa mencapai Rp 100 juta per bulan.
Padahal, untuk memasarkan produk jahe instannya, Zukri hanya mengandalkan agen-agen penjualan yang ada di tiap daerah. "Meski hanya melalui perantara agen, penyebaran produk ini lebih cepat," ujarnya.
Sayangnya, Sukma Jahe memang belum nongol di gerai-gerai supermarket atau pasar modern. Bukannya tak pernah mencoba, ia merasa, sistem pembayaran di pasar modern akan mempersulit permodalannya. "Padahal pelaku UKM seperti saya ini yang relatif lemah permodalan, harusnya malah lebih dipermudah," katanya.
Selain itu, Zukri mengungkapkan, ia tak punya cukup waktu untuk mengurus semua tetek bengek pembayaran di pasar modern. Pasalnya, selain sebagai produsen jahe instan, ia juga menggerakkan usaha lain.
Sejak enam tahun silam atau tepatnya tahun 2004, ia menerjuni usaha jasa yang menawarkan pelatihan manajemen berbasisoutbond. Berbeda dengan usaha jahe instannya yang terletak di Bekasi, bisnis jasa yang bernama Parabus Malino Tour dan Outbound ini berlokasi di Makassar.
Pada usaha outbond ini, Zukri mengadopsi beragam metode dengan memanfaatkan alam terbuka untuk menyampaikan materi pelatihan sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Ia memadukan unsur kerjasama, mengasah kreativitas, serta meningkatkan rasa percaya diri dan jiwa kepemimpinan. Sehingga, peserta harus menemukan teori dan pemecahan masalah dengan cepat. Dan, pada akhirnya, mereka mampu menerapkan pengalaman tersebut dalam dunia kerja. "Dengan aktivitas ini, perusahaan bisa memperbaiki sistem kerja menjadi lebih baik," katanya.
Sebagian besar klien yang menjadi langganannya tergolong perusahaan besar yang biasanya memiliki cabang di Makassar. Misalnya, PT Bank Negara Indonesia Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk dan perbankan lainnya. Ada pula PT Aneka Tambang Tbk dan PT Frisian Flag yang kerap menggunakan jasanya.
Dalam usahanya ini, Zukri memang tak hanya menyediakan pelatihan dengan para trainer yang berpengalaman. Namun, ia juga menawarkan fasilitas penginapan dan transportasi sekaligus.
Bahkan, klien juga bisa memilih paket rekreasi tanpa harus mendapatkan materi pelatihan manajemen. Bermacam kegiatan dengan basis alam, seperti rafting, paintball, dan berpetualang ke tempat-tempat wisata di sekitar Makassar, menjadi bagian paket wisata yang bisa dipilih. Ia pun mengklaim, jasa training outbond miliknya adalah yang terbaik di ibukota Sulawesi Selatan.
Sekarang, Parabus bisa mengumpulkan omzet sekitar Rp 100 juta-Rp 200 juta setiap bulan. Lantaran Zukri memiliki usaha jahe instan di Bekasi yang juga membutuhkan perhatiannya, pengelolaan Parabus sering diserahkan kepada stafnya.
Kini, Zukri hanya berperan sebagai pemegang saham di tempat itu. Tapi, sesekali, ia menyambangi Makassar untuk memantau operasional Parabus. Atau, bila ada klien besar yang akan melakukan pelatihan dan membutuhkan campur tangannya, Zukri tak segan terbang ke Makassar.
2. H. Mangkana (Tambak Udang)
                   Perantau asal Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, H. Mangkana, salah satunya yang memperoleh kehormatan menjadi tokoh "success story" dalam diskusi para saudagar Bugis Makassar yang berlangsung di gedung Wisma Kalla Makassar, Kamis.
                   Pengusaha dari tanah Bugis yang telah memiliki 1.000 karyawan dengan 3.000 tambak udang binaan ini telah memukau ratusan peserta PSBM XII di Makassar saat dirinya menceritakan keberhasilannya menjadi eksportir udang terbesar ke Jepang, dan sebagian negara-negara di Eropa dan Asia, saat dia merantau di Samarinda, Kalimantan Timur.
                   Pria yang telah meninggalkan bangku kelas tiga sekolah dasar (SD) di Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulsel itu mengaku ikut merantau dengan pamannya ke Kalimantan Timur saat masih berusia 11 tahun karena sulitnya kehidupan di kampung halamannya.
                   "Saya merantau ke Kalimantan tahun 1972. Saya memulai usaha dagang rokok di daerah itu dengan bermodalkan jual sarung milik ayah saya yang hanya dihargai Rp50 ribu di kala itu," ujarnya.
                   Jual beli hasil bumi telah dia lakoni sejak 1975 bersama saudara-saudaranya dengan mengantarkan produk hasil bumi dari Kalimantan ke Mamuju, Sulawesi Barat.
"Bukan hal mudah hidup di kampung orang. Jatuh bangun saat menjalankan usaha itu hal biasa, bahkan suka-dukanya jauh lebih banyak dukanya," ujar Mangkana.
                   Usaha yang digelutinya selama setahun itu tidak menghasilkan apa-apa, justru kerugian sehingga Mangkana harus kembali lagi bekerja menjadi buruh harian."Berdagang hasil bumi dengan saudara terus merugi, saya kembali lagi menjadi buruh pengangkut barang," ucap dia.
                   Kemudian, seorang teman dari Solo sempat memberikan modal usaha Rp500 ribu untuk berdagang hasil bumi, tetapi gagal. Dia mengaku, kerja keras membangun usaha yang diwarnai jatuh-bangun itu berakhir di tahun 2000 ketika dirinya mencoba membangun sebuah perusahaan yang bernama Syamsuria Mandiri. "Nama perusahaan ini diambil dari kata 'syamsu' yang artinya cahaya terang," katanya.
                   Mengembangkan perusahaan dengan sistem manajemen biasa-biasa membuat dirinya berpikir untuk menggandeng seorang teman dari etnis Tionghoa, untuk bisa membangun sistem manajemen usaha yang jauh lebih baik.
                   "Teman saya sempat berpesan, agar saya tidak berhubungan dengan orang di Singapura karena orang kita (Indonesia) selalu menjadi 'makanan' orang negeri itu. Inilah yang menjadi motivasi saya sampai sekarang," katanya.
                   Pesan itulah yang menjadi salah satu rahasia kesuksesannya ketika di penghujung tahun 2002, ketika dia mencoba menjajaki pasar ke negeri Jepang yang hanya bermodalkan jasa juru bahasa.
                   "Saya sengaja ke Jepang tidak melalui perusahaan atau mitra kerja lainnya. Saya hanya membawa orang yang bisa berbahasa Inggris, karena saya akui berbahasa Indonesia saja saya sulit apalagi berbahasa asing," ucap dia.
                   Bermula dari jiwa kesederhanaan dan kerja kerasnya akhirnya Mangkana memperoleh pasar udang di Jepang dan mampu memproduksi udang dengan kualitas ekspor hingga 250 ton per bulan.
                   Produksi udang dengan nilai ekspor berkisar 3 juta dolar AS itu, sekitar 60 persen atau sekitar 100 ton dari total produksi itu dipasok ke negara Jepang.
Tanggapan Peserta PSBM XII
                   Kesuksesan pria kelahiran tahun 1961 di Wajo, Sulsel ini sebagai eksportir udang windu terbesar di Jepang dan sebagian wilayah Eropa dan Asia Timur mendapat respon positif dari ratusan peserta yang mengikuti pertemuan Saudagar Bugis Makassar itu yang sebagian pejabat negara dan pengusaha besar di negeri ini.
                   Kepala Balitbang Kementerian Pendidikan Nasional, Mansyur Ramli dalam kesempatan itu sempat memberikan apresiasi kepada tokoh "success story" yang dihadirkan dalam pertemuan itu.
                   "Tidak selamanya orang berpendidikan tinggi saja yang mampu membangun usaha. Dari 100 orang yang berpengaruh di dunia, hanya empat yang berasal dari pendidikan formal. Selebihnya berasal dari pendidikan informal seperti yang dikisahkan H. Mangkana tadi," ucap dia.
                   Dirjen Binmas Kementerian Agama, Nasruddin Umar juga menyampaikan apresiasi yang sama terhadap perjalanan usaha saudagar bugis yang beranak lima itu."Seandainya ada sekitar 50 orang yang punya kesuksesan seperti pak H. Mangkana, maka dipastikan masyarakat Bugis Makassar akan lebih baik," kata dia.

3. Hj. HARFANA ALWI (Real Estate)

Hj. Harfana Alwi atau akrab dipanggil dengan Anha ini merupakan seorang pengusaha sukses asal Kota Bone Sulawesi Selatan dengan Nama Perusahaannya yaitu PT Harfana Halim Indah. Anha ini, lahir di Watampone Kabupaten Bone pada Tanggal 26 September 1990, merupakan anak pertama dari 3 (tiga) bersaudara. Ia termasuk seorang anak yang lahir dari keluarga yang berada, ia memiliki banyak skali skill (kemampuan) dalam berbagai bidang, khususnya dalam bidang kewirausahaan. Sekarang ini, Anha sedang menempuh pendidikannya di Jurusan Kedokteran Umum Universitas Hasanuddin, dibalik kesibukannya tersebut, Ia juga merupakan Pimpinan Utama (Direktur) dari Perusahannya tersebut.
 Perusahaan PT Harfana Halim Indah yang dikelola oleh Harfana ini asal mulanya, ditangani oleh Ayahnya (H.Muhammad Alwi), ia hanya melanjutkan perjuangan dan cita-cita Ayahnya. Usaha ini mempunyai sejarah sebagai Berikut:
Usaha ini sebelumnya dibangun oleh Ayah dari Sdri. HJ.Harfana Alwi yaitu H.Muhammad. Alwi yang sebelumnya berprofesi sebagai tukang gigi. Ia memulai usahanya dengan mengumpulkan modal sedikit demi sedikit ke dalam tabungannya yaitu BRI hingga mencukupi untuk meraih impiannya tersebut. Modal tersebut dikumpulkannya dari usahanya sebagai tukang gigi, dan modal tambahan yang diberikan dari kakek Sdrii HJ.Harfana Alwi yang bekerja sebagai petani. Usaha ini pada awalnya berkembang dengan sangat lambat disebabkan oleh factor modal, namun dengan adanya peminjaman kredit pada Bank, maka usaha ini terus mengalami perkembangan. Setelah HJ.Harfana Alwi berusia 17 tahun, ayahnya mewariskan atau memindahtangankan seluruhnya usaha ini kepadanya. Sehingga ia merasa pada usia tersebut sebagai usia yang menuntunnya untuk menjadi seorang wirausaha dari usaha yang dicetuskan oleh Ayahnya. Selama berada di tangan HJ.Harfana Alwi, usaha ini terus menerus mengalami perkembangan pesat, ia melakukan sedikit perubahan-perubahan pada organisasi usaha ini, dimana perubahan ini memberikan manfaat yang sangat besar bagi calon pembelinya.
Yang menjadi trik utama dalam usaha Real Estate ini adalah, mencari lokasi atau sasaran pembangunan yang kurang persaingan dalam lokasi tersebut. Seperti di daerah perkotaan yang padat penduduk, namun kurang persaingan pada lokasi tersebut. Dalam usaha ini, dilakukan di daerah Bone, Bombana, dan Palopo. Maka dari hal tersebut, sehingga lahirlah suatu perusahaan yang besar, yang dikelolah oleh tangan-tangan yang terampil pada bidangnya masing-masing.

Berikut ini adalah sekilas tentang Perusahaan PT Harfana Halim Indah:
Jenis Usaha               : Real Estate “Pengadaan Jual Beli Rumah dalam lingkungan suatu Perumahan”
Tanggal Berdiri          : Tahun 1985
Tempat Berdiri          : Watampone, Kabupaten Bone Sulawesi Selatan
Modal awal: Rp. 500.000,-
Sumber Modal          :Tabungan Sendiri (dari Usaha-usaha sebelumnya seperti Usaha Sebagai Tukang Gigi dan tambahan dari orang Tua)
Omset: Rp. 2.000.000.000,-/Bulan
Lokasi Usaha:
Tersebar di berbagai Provinsi di Pulau Sulawesi seperti Sulawesi Selatan pada umumnya, Sulawei tenggara, dan Sulawesi Tengara.
Pusat/Kantor Lokasi Usaha:
1.         Jalan Sambaloge Baru Watampone, Kabupaten Bone.
2.         Jalan Poros Palopo-Belopa, Kabupaten Palopo.
3.         Bombana, Sulawesi Tenggara
Nama-nama Perumahan:
1.         BTN Harfana halim Indah Permai
2.         BTN Harfana halim Indah Lestari
3.         BTN Alam Indah Permai
4.         BTN Permata Biru Indah Permai
5.         BTN Bone Biru Indah Permai
6.         Perumnas Tibojong Indah Permai
7.         Taman Anggrek Indah Permai
8.         Bombana Indah Permai
9.         BTN Bombana Harfana Indah Permai
10.       Palopo Harfana Indah Permai

4. ANDI ARHAM BUNYAMIN (Usaha Percetakan)

            Faktor usia bukan penghalang kesuksesan seseorang. Beberapa orang bahkan bisa meraih sukses, meski usianya masih sangat muda. Salah satunya Andi Arham Bunyamin. Pria asal Makassar, Sulawesi Selatan ini sukses merintis usaha percetakan di usia 23 tahun. Di bawah bendera Kretakupa, ia bisa menghasilkan omzet lebih dari Rp 100 juta sebulan.
Sejatinya, keterlibatan Andi di usaha percetakan berawal dari ketidaksengajaan. Ketika masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) di Makassar pada 2006 silam, ia diminta mendesain pin untuk keperluan organisasi di sekolahnya. “Ternyata, teman-teman minta supaya saya sekaligus yang mencetak pin itu,” kisahnya.
Andi pun menyanggupinya. Meski, katanya, waktu itu masih sulit menemukan tempat percetakan pin. Setelah pin yang dipesan rampung, teman-teman sekolahnya malah menyangka ia memang punya bisnis percetakan. Alhasil, semakin banyak teman-teman dan organisasi lainnya di sekolah yang minta dibuatkan pin. Saking membawa banyak pesanan, toko percetakan memberikan harga khusus kepada Andi.
Sejak itulah, ia melihat pembuatan pin sebagai peluang bisnis. Mulai 2008, ia makin serius menggarap order pembuatan pin. Maklum, ia bertekad mengumpulkan modal untuk merintis usaha sendiri. 
Akhirnya, dengan modal Rp 2,5 juta hasil dari berjualan pin selama dua tahun, Andi merintis usaha percetakan. Uang itu dibelikan satu mesin pencetak pin.  Ia menamakan usahanya Kretakupa, singkatan dari "kreasi tak kunjung padam".
Order terus berdatangan dari berbagai organisasi sekolah dan kampus di Makassar. Memang, Andi mendapat dukungan dari teman-temannya yang rajin mempromosikan kreasi pin buatannya.
Usahanya kian berkembang ketika ia melanjutkan kuliah di Universitas Hassanudin, Makassar. Jika sebelumnya hanya fokus menerima pesanan pin dan gantungan kunci, kemudian Kretakupa bermetamorfosis menjadi usaha percetakan yang komplit. Kini, kiosnya melayani pembuatan poster, brosur, kartu nama, stiker, plakat, hingga bendera kampanye. 
Pelanggannya tersebar di berbagai daerah di tanah air. Bahkan, beberapa kali ia terima pesanan dari Malaysia dan Brunei Darussalam.
Dibantu lima karyawan, Andi bisa menerima ribuan order percetakan dan merchandise tiap bulan. Alhasil, ia bisa meraup omzet berkisar Rp 60 juta hingga di atas Rp 100 juta sebulan.
Berkat keuletannya membangun Kretakupa, Andi dinobatkan sebagai pemenang II Kategori Mahasiswa Program Diploma dan Sarjana Bidang Industri & Jasa oleh Bank Mandiri pada tahun 2010 silam.

5. MUHAMMAD JUSUF KALLA

          Muhammad Jusuf Kalla lahir di Sulawesi Selatan, 15 Mei 1942, dikenal sebagai pebisnis ulung, ketua Kamar Dagang dan Industri Daerah (KADINDA) Sulawesi Selatan, ketua partai Golkar dan wakil president ke 10 Indonesia. Dia merupakan anak ke dua dari 17 bersaudara dari pasangan Haji Kalla dan  Hajjah Athirah Kalla.
JK (panggilan media) mampu ikut aktif di bisnis keluarga. Dia sukses mengembangkan bisnis tekstil hingga bisnis jalanan. Dia memiliki pandangan tersendiri tentang bisnisnya. Setelah lulus kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanudin, keadaan ekonomi memburuk tepatnya di tahun 1967. Itu membawa ayahnya untuk menutup usahanya, NV Hadji Kalla. Dia pun tergerak menyelamatkan bisnis keluarga menjauh dari kegiatan politik. 
Di 1968, JK resmi menjadi CEO NV Hadji Kalla, perusahaan bergerak dibidang bisnis ekspor impor. Dibawah kepemimpinannya, NV Hadji Kalla menjadi pemain di bisnis perhotelan, perkapalan, real estate, transportasi, peternakan, kelapa sawit, dan telekomunikasi. Dibawah nama Kalla Group, ia mendirikan unit usaha lain yang bergerak dibergai bidang, membuat perusahaan miliknya menjadi perusahaan grup besar di Makassar.
Kalla Group semulau hanya perusahaan keluarga milik orang tua Jusuf Kalla. Keduanya, Haji Kalla dan Hajjah Athirah Kalla, memulai berbisnis di bidang tekstil di kota Watampone, Sulawesi Selatan. Usahanya berkembang merambah bisnis transportasi dan membeli mobil truk dari luar dan digunakan mengangkut barang dari Bone ke Makassar. Hal lainnya, mereka menjalankan bisnis angkutan jenis station wagon yang melayani trayek Makassar- Bone diberin nama Cahaya Bone.
Akhirnya, pasangan ini membangun perusahaan besar dari nol bernama NV (Namlozee Venonchap) Hadji Kalla Trading Company, berbisnis dibidang perdagangan dan logistik. Haji Kalla menyerahkan kepemimpinan NV Hadji Kalla tahun 1967. Ia, Jusuf Kalla menjalankan bisnis sangat baik melalui berbagai usaha baru. Salah satunya, ia mendirikan perusahaan kontraktor bernama Bumi Karsa.
Di bidang transportasi lah usaha Kalla Group terlihat mencolok di kepemimpinan seorang Jusuf Kalla. Sebut saja, ia berhasil memegang hak jual (eksklusif) untuk Toyota dengan PT.Hadji Kalla. Mula- mula dia hanya menjual mobil rakitan atau semi koncked down sehingga Toyota akan dirakit di Makassar. Kemudian perusahaanya memiliki lisensi menjual traktor mini merek Kubota untuk keperluan pertanian. Pada 1980, JK memiliki hak penjualan Daihatsu dan Nissan melalui PT. Makassar Raya Motor.
Ia kemudia menjadi deler mobil KIA dan Timor melalui PT. Kars Inti Amanah, ini seiring program mobil murah. Ketiganya merupakan foktor penting dalam usaha bisnisnya hingga menjadikannya salah satu dari pengusaha paling berpengaruh. Di era 1990, bisnisnya merambah ke jalanan melalui PT.Bumi Sarana Utama, mengerjakan jual beli aspal curah, pengerjaan infrastruktur jalan, dan bandara. Tidak berhenti disana, perusahaan baru pun didirikan menjadi bagian usaha baru.
Melalui PT.Baruga Asrinusa Development, ia ikut mengembangkan properti di Makassar. JK tidak hanya emmbangun pusat perkantoran, perumahan, pusat niaga, tetapi juga termasuk rumah ibadah. Bukan hanya rumah mewah, ia juga fokus di pembangunan perumahan murah. Ini dimaksudkan menciptakan sarana layak huni di wilayahnya sendiri. Selain itu masih ada usaha dibidang perhotelan, melalui PT.Kalla Inti Karsa, ia membangun pasar tradisional, menjalankan Hotel Sahid Makassar dan mendirikan pusat perbelanjaan moderen terbesar di Indonesia Timur, Mal Ratu Indah.
Saat Jusuf Kalla diangkat menjadi Menteri Perdagangan dan Perindustrian di 1999, perusahaan dipegang oleh Fatimah Kalla. Saat itu pula, perusahaan terlah menggurita menjadi bisnis besar dan bertransformasi menjadi Kalla Group. Ekspansi ini merupakan kerja keras bertahun- tahun, dia adalah orang yang yakin memampu menghadapi krisis karena kerja merupakan bagian dari ibadah.
PT.Hadji Kalla mengalami transformasi dan menjadi Kalla Group. Perusahaan Kalla Group melalui berbagai anak perusahaan.


sumber : http://anitahidayantii.blogspot.com

Tidak ada komentar