MANUSIA BERTANGAN EMAS


APA KUNCI KESUKSESAN SAHABAT NABI INI??

Abdurrahman bin Auf adalah salah satu sahabat nabi muhammad yang masuk Islam sangat awal setelah bersahadat dua hari setelah Abu Bakar. Abdurrahman bin Auf di persaudarakan dengan seorang Anshar warga asli Madina yakni Saad bin Rabi. Sa’ad menawarkan separuh hartanya, namu Abdurrahman  menolak , ia hanya minta di tunjukan jalan menuju Pasar.

Keesokan harinya, beliau bekerja sebagi kuli panggul. Ketika  waktu senggang beliau mengamati kondisi pasar,  mulai dari komoditas barang yang diperdagangkan, kondisi persaingan antar pedang, sampai sistem pasokanbarang sertai peluang pasar yang masih besar. Hari berikutnya, beliau tidak bekerja sebagai kuli panggul, Abdurrahaman bin Auf beralih bekerja menjadi makelar bahasa popolernya broker. Berkat kepiawaiannya dalam berdagang yang sesuai dengan prinsip-prinsip islam tidak membutuhkan waktu yang lama. Hari demi hari beliau berusaha sampai akhirnya beliau bisa mengelolah usahanya dengan modalnya sendiri. Sebulan kemudian, Abdurrahman bin Auf datang ke rasulullah dengan membawa emas yang besarnya seperti biji kurma untuk meminang seorang gadis. Setahun kemudian beliau mengeluarkan infaq yang jumlahnya sangat mencengangkan, jika dikurskan dalam nilai rupiah sekitar 42,5 triliun rupiah.

Apa sebenarnya kunci kesuksesan Abdurrahman bin Auf? apakah karena kualitas barang dagangannya yang bermutu, harganya yang murah, pelayanannya yang memuaskan, atau tempatnya yang strategis? Memang itu semua termasuk dalam kriteria kesuksesan beliau tetapi boleh dikatakan hal tersebut juga termasuk dalam kriteria yang diterapkan pedagang pasar madinah lainnya. lalu pertanyaan selanjutnya mengapa mereka tidak mampu menyamai atau bahkan mengungguli kesuksesan Abdurrahman bin Auf dalam kecepatannya mengkapitalisasi kekayaan yang sangat luar biasa secara berkesinambungan. Ternyata kunci utamanya adalah faktor keberkahan. Beliau memulai awal usahanya hingga berkembang tanpa sedikitpun tercampur dengan sistem ribawi yang banyak beredar di pasar madinah yang notabennya pada saat itu dikuasai oleh kelompok yahudi. Dengan komitmen dan sikap kehati-hatiannya dalam menjaga usaha dan perniagaanya dari semua hal yang ribawi itulah yang lebih dikenal dari sosok Abdurrahman bin Auf dikalangan para sahabat. Sampai-sampai Ustman bin Afwan yang terkenal sebagai salah satu sahabat Rasulullah yang juga kaya raya turut ikut mengantri untuk mendapatkan jatah sedekah dari harta milik Abdurrahman bin Auf. Ketika ditanya oleh sahabat yang lain mengenai alasan beliau menginginkan harta sedekah tersebut, Ustman menjawab “Aku ingin ikut mendapatkan berkah dari harta Abdurrahman bin Auf.

Kiprah Abdurrahman bin Auf tidak hanya dikenal sebagai pengusaha sukses. Beliau juga dikenal sebagai seorang muslim yang taat dan sangat dermawan.

Seperti ketika Rasullullah SAW membutuhkan dana untuk perang Tabuk yang membutuhkan dana yang sangat banyak. Abdurrahman bin Auf memeloporinya dengan menyumbang dua ratus uqiyah emas (1 uqiyah setara dengan 50 dinar) sampai-sampai Umar bin Khattab berbisik kepada Rasulullah SAW “ Sepertinya Abdurrahman berdosa kepada keluarganya karena tidak meninggali uang belanja sedikitpun untuk keluarganya”. Mendengar ini, Rasulullah SAW bertanya pada Abdurrahman bin Auf, “Apakah kamu meninggalkan uang untuk istrimu ?”, “ Ya!” Jawab Abdurrahman, “Mereka saya tinggali lebih banyak dan lebih baik dari yang saya sumbangkan”. “Berapa ?” Tanya Rasulullah. “ Sebanyak rizki, kebaikan, dan pahala yang dijanjikan Allah.” Jawabnya. Subhanallahu. Abdurrahman bin Auf pernah menyumbangkan seluruh barang yang dibawa oleh kafilah perdagangannya kepada penduduk Madinah padahal seluruh kafilah ini membawa barang dagangan yang diangkut oleh 700 unta yang memenuhi jalan-jalan kota Madinah. Selain itu juga tercatat Abdurrahman bin Auf telah menyumbangkan antara lain 40.000 Dirham, 40.000 Dinar, 200 uqiyah emas, 500 kuda, dan 1.500 unta. Banyak dan sering sekali, beliau menggunakan hartanya untuk diinfaqkan. Sampai- sampai ada penduduk Madinah yang berkata “ Seluruh penduduk Madinah berserikat dengan Abdurrahman bin Auf pada hartanya. Sepertiga dipinjamkannya pada mereka, sepertiga untuk membayari hutang-hutang mereka, dan sepertiga sisanya dibagi-bagikan kepada mereka”. Dengan begitu banyak harta yang diinfaqkan di jalan Allah, ketika meninggal pada usia 72 tahun beliau masih juga meninggalkan harta yang sangat banyak yaitu terdiri dari 1.000 ekor unta, 100 ekor kuda, 3.000 ekor kambing dan masing-masing istri mendapatkan warisan 80.000 Dinar. Artinya, kekayaan yang ditinggalkan Abdurrahman bin Auf saat itu berjumlah 2.560.000 Dinar

Sumber :  Google. Com

Tidak ada komentar